Check out and listen our song FruitFlow "DENGARLAH" Feat. Essy Sumiko >>>
http://www.reverbnation.com/juckz
Showing posts with label Women inspiring stories. Show all posts
Showing posts with label Women inspiring stories. Show all posts

Sunday, July 10, 2011

Nuryati, mantan TKI bergelar sarjana

Nuryati Solapari nekad menjadi TKI demi keinginannya meraih sarjana.
Impian Nuryati Solapari meraih gelar sarjana akhirnya tercapai, setelah dia memutuskan terbang ke Arab Saudi menjadi Tenaga Kerja Indonesia, TKI.
Semula akibat kemiskinan yang melilit keluarganya, dia harus menunda impiannya untuk kuliah.

"Kalau tidak berani, saya tidak akan bisa mengubah hidup"
Nuryati Solapari
Perempuan kelahiran tahun 1979 ini juga harus berulang kali meyakinkan orang tuanya, yang sejak awal melarangnya pergi karena "khawatir dianiaya majikannya di Arab Saudi".
Walaupun agak was-was, Nuryati menepis jauh-jauh kekhawatiran seperti itu.
Ambisinya untuk kuliah -- dengan biaya sendiri -- akhirnya membuat orang tuanya harus "merestui" kepergian anak sulungnya itu.
"Kalau tidak berani, saya tidak akan bisa mengubah hidup,"kata Nuryati Solapari kepada BBC Indonesia, Hari Senin (23/3) lalu.
Nuryati menjawab semua pertanyaan BBC dengan lancar dan sesekali diwarnai gelak tawa, di sebuah ruangan Fakultas Hukum, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, di Kota Serang -- tempatnya mengajar sebagai dosen mata kuliah Hukum Ketenakerjaan.
"Kalau yang saya pikirkan bukan soal penganiayaan (oleh majikan di Arab Saudi), tapi angan-angan saya ingin kuliah," ungkapnya, terus-terang.
"Itu yang saya gantungkan, suatu saat saya harus memperolehnya," katanya lagi.
Lagipula, menurutnya, tak mungkin bisa menyisihkan penghasilannya jika saat itu (tahun 1998) dia memaksa bekerja di dalam negeri.

Bekal buku pelajaran

Di Arab Saudi, Nuryati beruntung bekerja di sebuah keluarga yang disebutnya berperangai baik.
"Saya bekerja di sebuah keluarga karir. Suami-istri bekerja sebagai dokter,"ungkapnya, mulai bercerita.
Selain bertugas urusan rumah tangga, dia juga diminta membantu dua remaja keluarga itu dalam urusan belajar.
Kepada Heyder Affan, Nuryati mengaku membawa buku-buku pelajaran saat menjadi TKI di Arab Saudi.
Di sela-sela pekerjaannya itu, Nuryati menyempatkan membaca buku-buku pelajaran SMA, yang dia bawah dari Indonesia. "Dan, majikan saya tak pernah memasalahkannya," katanya lagi.
Meskipun majikannya berperangai baik, Nuryati -- yang selalu berprestasi di bidang akademik di masa SMA -- tetap waspada mengantisipasi jika terjadi masalah dirinya dengan sang majikan.
Hal ini dia tekankan karena belajar dari kasus-kasus kekerasan yang menimpa TKI perempuan lainnya.
Nuryati kemudian memberikan contoh, dengan mencatat nomor-nomor telepon penting yang harus segera dihubungi, seperti nomor telepon Konsulat atau Kedutaan Indonesia di negara itu.
Dan tidak main-main, Nuryati mencatat nomor-nomor itu dengan kode rahasia di kerudung yang dia kenakan setiap hari.
"Misalnya angka nol, saya gambar dengan kode matahari, dan angka 1 dengan pohon kelapa," jelasnya, dengan sedikit mengumbar senyum.
"Fungsinya kalau dapat masalah, ya, saya dapat leluasa kirim informasi. Sebab, dokumen yang saya pegang, dibawa oleh majikan," jelasnya.
Sisanya, tentu saja, Nuryati mengaku telah menyiapkan jauh-jauh hari mental serta kemampuan kerja sebagai pembantu.

Lihat wisuda Al Azar

Relatif tidak ada persoalan berarti, Nuryati melakoni rutinitas ini sampai akhirnya dia melihat sebuah berita dari stasiun televisi setempat -- yangmenyiarkan sebuah prosesi wisuda di Universitas Al Azar, di Kairo, Mesir.
"Saat itulah saya terbangun lagi, bahwa niat saya bekerja sebagai TKI adalah untuk kuliah," katanya, mengenang.
Sebelumnya, dia berulang kali memberitahu majikannya bahwa tujuannya bekerja di Arab Saudi adalah untuk mencari uang untuk biaya kuliah.
"Meski di Arab saya banyak uang, tapi karena tujuan awal saya pergi ke Arab cari uang untuk kuliah, maka saya putuskan pulang"
Nuryati Solapari
Sang majikan, tentu saja, terheran-heran mendengar ucapan Nuryati. "Saya untuk pertama kalinya mendengar warga Indonesia menjadi TKI di Arab, karena ingin kuliah. Biasanya mereka pulang untuk bangun rumah," Nuryati menirukan tanggapan majikannya, kali ini dengan tergelak.
Secara terus-terang dia kemudian mengutarakan keinginannya untuk tidak memperpanjang kontrak dan kembali ke Indonesia.
Tentu saja, suami-istri itu berusaha membujuknya agar tetap bekerja di rumahnya.
"Mereka bahkan mengiming-imingi saya, dengan menjanjikan memberi hadiah, berupa membangunkan rumah di Indonesia segala," jelasnya.
Dihantui dilema, karena antara lain tuntutan membiayai adiknya dirawat di rumah sakit, Nuryati akhirnya lebih memilih pulang ke Indonesia di tahun 2001.
"Meski di Arab saya banyak uang dan mendapat majikan yang baik," ungkapnya, "tetapi karena tujuan awal saya pergi ke Arab adalah cari uang untuk kuliah, maka saya putuskan pulang".

Raih gelar sarjana

Hanya tiga hari setelah tiba di Indonesia, Nuryati langsung ikut tes di Fakultas Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Kota Serang, Propinsi Banten, dan langsung diterima.
Selain mengandalkan uang tabungan selama menjadi TKI, dia juga bekerja sebagai di sebuah restoran dan menjajakan makanan katering,
Dalam waktu 3 tahun, Nuryati akhirnya meraih gelar sarjana dan meraih predikat cum laude, dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,7.
Empat tahun kemudian, dia meraih gelar master bidang hukum di Universitas Jayabaya, Jakarta. Ibu dua anak ini juga memperoleh sertifikat advokat dari Persatuan Advokat Indonesia.
Namun dia akhirnya memilih menjadi dosen di almamaternya, sampai sekarang, seraya mempersiapkan rencananya mengambil program doktoral di Universitas Padjadjaran, Bandung.
Tiga hari setelah kembali ke Indonesia, Nuryati langsung mendaftar kuliah.
Di kampus ini, dia berencana mengambil studi tentang hukum ketenagakerjaan. Dan jika berhasil, perempuan 32 tahun ini bertekad mengubah sebutan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang selalu dilekatkan dengan kebodohan dan kemiskinan.
"Karena saya mantan TKI, maka saya akan kembali (di dunia) TKI. Saya ingin ubah paradigma TKI yang selalu diidentikkan dengan kebodohan dan kemiskinan," katanya lagi.
Tetapi, sebetulnya apa yang membuat Anda begitu kuat untuk terus melanjutkan studi? Tanya BBC Indonesia.
"Dengan pendidikan, kita bisa mengubah kehidupan," tegas Nuryati,mengutip pendapat seorang ahli.
Dia kemudian membandingkan kehidupannya sekarang dengan saat dia menjadi pembantu di Arab Saudi.
"Saat jadi TKI, pekerjaan saya luar biasa beratnya, di mana jam kerja tidak tentu,"ungkapnya.
Sebuah situasi yang berbeda 180 derajat saat dia terjun sebagai dosen, sekarang. "Jika tak berpendidikan, tak mungkin saya bisa seperti sekarang," tegasnya.

Bangga mantan TKI

Kepada BBC Indonesia, Nuryati menyatakan bahwa dia tidak rendah diri terhadap sebutan mantan TKI.
Peraih penghargaan Migrant Worker Award 2010 (bersama 12 orang mantan TKI yang berhasil) ini malah mengatakan, justru dia bangga pernah melakoni sebagai pembantu di Arab Saudi.
"Rasanya saya cukup bangga menjadi mantan TKI, karena sungguh luar biasa pengaruhnya terhadap untuk hidup saya," tegasnya.
"Saya tak pernah menyesali," katanya, menandaskan.
Itulah sebabnya, saat mengajar di depan mahasiswanya, Nuryati selalu mengaku pernah bekerja sebagai TKI di Timur Tengah. Hal yang sama juga dia utarakan dalam pertemuan atau seminar menyangkut ketenagakerjaan.
"Dan saya tak malu mengatakannya."
Tentang sebutannya sebagai mantan TKI, Nuryati kemudian menceritakan pengalaman pribadinya. Kali ini dia mengutarakan dengan tersenyum.
"Suami saya bilang: Kalau cari istri anak orang kaya, saya tak mungkin pilih kamu. Tapi karena saya ingin cari istri yang berpotensi kaya, kaya ilmu misalnya, maka saya pilih kamu"
Nuryati Solapari
"Berkat cerita TKI itulah, sebetulnya, suami saya menyunting saya," katanya, seperti membuka rahasia.
"Suami saya bilang: Kalau cari istri anak orang kaya, saya tak mungkin pilih kamu. Tapi karena saya ingin cari istri yang berpotensi kaya, kaya ilmu misalnya, maka saya pilih kamu."
Secara khusus, Nuryati menyebut peran ibunya yang membuatnya mampu menggerakkannya untuk mengubah nasib.
"Beliau dengan ikhlas selalu mendorong secara terus-menerus: 'Kalau mau jadi perempuan, harus menjadi perempuan maju'. Lagipula, adik-adikmu ada dipundakmu," begitu nasihat ibunya, yang selalu ditekankan kepadanya sebagai anak sulung.
Kemiskinan yang dulu melingkupi keluarga serta lingkungannya, juga disebutnya sebagai pendorong kuat terhadap dirinya untuk "berubah".
"Apakah kalau miskin, kita lantas menyerah. Padahal kita punya pikiran, tenaga," katanya kali ini dengan menerawag.
"Lagipula saya tak mau jadi beban keluarga. Saya ingin meninggikan derajat orang tua," tandas Nuryati Solapari.
Kini impian ibu dua anak ini terkabul. Namun Nuryati tak ingin berhenti di sini. Melalui seminar dan diskusi-diskusi di berbagai tempat, perempuan asal Kota Serang, Propinsi Banten ini, terus berbagi ilmu kepada orang-orang tentang pengalamannya menjadi TKI yang kemudian berbuah keberhasilan meraih pendidikan lebih tinggi.



sumber
http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/2011/04/110404_tokohnuryatisolapari.shtml

Monday, June 20, 2011

Perempuan Doktor “Nano Technology” Itu dari Sragen

Di sebuah tempat terpencil, sekira 20 km utara kota kabupaten Sragen, hidup wanita Indonesia pertama pemegang gelar doktor (Dr) dari Max Planck Institute di Jerman dalam bidang nano technology.
Lindarti Purwaningsih berdomisili di Dusun Sendangrejo RT 20 RW 7, Desa Jati, Sumberlawang, Sragen. Salah satu penelitian wanita yang baru saja genap 30 tahun ini adalah tentang alat diagnosa kanker.
“Alat diagnosa kanker tersebut memanfaatkan hasil teknologi nano yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia, sehingga hasil diagnosanya sangat akurat,” ujar Lindarti, kemarin.
Teknologi Nano adalah teknologi yang mengembangkan pembuatan berbagai alat dengan ukuran sangat kecil, yakni 10.000 mm, dengan kemampuan sangat besar dan luar biasa. Contoh pemanfaatan teknologi nano adalah kamera yang dimasukkan ke pembuluh darah sehingga mampu mendeteksi penyakit. Contoh lainnya, alat pengintai dengan ukuran sekecil lalat,  namun mampu memberikan informasi yang besar. Dengan demikian, keberadaan teknologi nano bisa digunakan dalam segala bidang baik kesehatan, pendidikan, alat tempur, maupun kepentingan lainnya.
Lajang yang menyelesaikan S1 dan S2 nya di program studi (prodi) Ilmu Kimia di Institut Teknologi Bandung ini menjelaskan, dia juga kini mengembangkan alat anti pantul terhadap sinar memanfaatkan teknologi nano. Alat tersebut diharapkan mampu menyerap sinar seperti matahari.
“Penelitian itu kini dalam proses mendapatkan hak paten. Prosesnya memang panjang,” tutur anak ketujuh dari sembilan saudara pasangan Purwoadmojo-Sumarti ini.
Lulusan SD Jati, Sumberlawang, Sragen itu melanjutkan, karena ilmu yang diperolehnya belum bisa dipraktikkan di Indonesia, dia terpaksa akan kembali ke Jerman untuk melanjutkan penelitiannya. Di Indonesia memang belum ada wadah penelitian yang memadai bagi para ilmuwan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pun masih terbatas pada riset saja.
“Saya ingin mencari wadah bagi ilmu saya ini di Indonesia. Hanya saja, biaya penelitian sangat besar. Maka untuk mewujudkan hasil ilmu, saya terpaksa harus kembali ke Jerman,” ujar Lindarti pasrah.
Kakak kandung Lindarti, Setyo Budiyarto, menambahkan, sebenarnya gelar doktor yang dicapai Lindarti bukanlah satu-satunya hal yang harus terus dibanggakan. Namun, hasil tersebut diharapkan mampu memacu warga Sragen maupun Indonesia untuk mampu mengejar pendidikan setinggi-tingignya tanpa harus takut dan ragu kendati mereka dari desa terpencil.
“Niat yang tinggi dan tekad yang keras, akan membantu kita mencapai ilmu meski kita dari desa. Selain itu, tidak harus masuk sekolah elit atau mahal. Selama ada sekolah di desa, pendidikan yang diiginkan akan tercapai, ” kata lulusan ITB ini menandaskan. (rfa)(Roso Prajoko/Global/rhs)
Sumber: OkeZone- repost by indonesiaberprestasi.web.id

Saturday, June 18, 2011

Susi Air


Kisah Susi Pudjiastuti Pemilik Susi Air


Ingin pinjam uang di Bank dianggap gila , akhirnya jual cincin dan perhiasan yg dia punya buat modal bakul ikan. Keputusannya keluar dari sekolah saat masih berusia 17 tahun sangat disesalkan oleh kedua orang tuanya. Namun, berkat keuletan dan kerja kerasnya, kini Susi Pudjiastuti memiliki 50 pesawat dan pabrik pengolahan ikan yang berkualitas untuk melayani kebutuhan ekspor.
Namanya Susi Pudjiastuti, Presiden Direktur PT ASI Pudjiastuti yang bergerak di bidang perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation yang merupakan operator penerbangan Susi Air. Rambutnya ikal kemerahan, suaranya serak-serak, namun pembawaannya supel.
Bukan hanya bahasa Inggris fasih yang keluar dari mulutnya saat berbincang dengan para pilotnya yang bule. Susi – panggilan akrabnya – juga menggunakan bahasa Sunda dan sesekali bahasa Jawa kepada pembantu-pembantunya.


“Saya suka belajar bahasa apa aja. Yang penting bisa buat marah dan memerintah. Sebab, dengan itu, saya bisa bekerja,” ujarnya sambil lantas tertawa.
Saat ini, wanita kelahiran Pangandaran, 15 Januari 1965 tersebut, memiliki 50 unit pesawat berbagai jenis. Di antaranya adalah Grand Caravan 208B, Piaggio Avanti II, Pilatus Porter, serta Diamond DA 42. Kebanyakan pesawat itu dioperasikan di luar Jawa seperti di Papua dan Kalimantan.
“Ada yang disewa. Namun, ada yang dioperasikan sendiri oleh Susi Air. Biasanya dipakai di daerah-daerah perbatasan oleh pemda atau swasta,” jelas wanita yang betis kanannya ditato gambar burung phoenix dengan ekor menjuntai itu.
Susi tak mematok harga sewa pesawat secara khusus. Sebab, hal itu bergantung pelayanan yang diminta pihak penyewa. Biaya sewanya pun bermacam-macam, tapi rata-rata antara USD 400 sampai USD 500 per jam.
“Kadang ada yang mau USD 600 sampai USD 700 per jam. Perusahaan minyak mau bayar USD 1.000 karena beda-beda level servis yang dituntut. Untuk keperluan terbang, semua piranti disediakan Susi Air. Pesawat, pilot, maupun bahan bakar. Jadi, itu harga nett mereka tinggal bayar,” tegasnya.
Bakat bisnis Susi terlihat sejak masih belia. Pendirian dan kemauannya yang keras tergambar jelas saat usia Susi menginjak 17 tahun. Dia memutuskan keluar dari sekolah ketika kelas II SMA. Tak mau hidup dengan cara nebeng orang tua, dia mencoba hidup mandiri. Tapi, kenyataan memang tak semudah yang dibayangkan.
“Cuma bawa ijazah SMP, kalau ngelamar kerja jadi apa saya. Saya nggak mau yang biasa-biasa saja,” ujarnya.

Kerja keras pun dilakoni Susi saat itu. Mulai dari berjualan baju, bed cover, hingga hasil-hasil bumi seperti cengkeh. Setiap hari, Susi harus berkeliling Kota Pangandaran menggunakan sepeda motor untuk memasarkan barang dagangannya. Hingga, dia menyadari bahwa potensi Pangandaran adalah di bidang perikanan. “Mulailah saya pengen jualan ikan karena setiap hari lihat ratusan nelayan,” tuturnya.
Pada 1983, berbekal Rp 750 ribu hasil menjual perhiasan berupa gelang, kalung, serta cincin miliknya, Susi mengikuti jejak banyak wanita Pangandaran yang bekerja sebagai bakul ikan. Tiap pagi pada jam-jam tertentu, dia nimbrung bareng yang lain berkerumun di TPI (tempat pelelangan ikan). “Pada hari pertama, saya hanya dapat 1 kilogram ikan, dibeli sebuah resto kecil kenalan saya,” ungkapnya.
Tak cukup hanya di Pangandaran, Susi mulai berpikir meluaskan pasarnya hingga ke kota-kota besar seperti Jakarta. Dari sekadar menyewa, dia pun lantas membeli truk dengan sistem pendingin es batu dan membawa ikan-ikan segarnya ke Jakarta. “Tiap hari, pukul tiga sore, saya berangkat dari Pangandaran. Sampai di Jakarta tengah malam, lalu balik lagi ke Pangandaran,” ucapnya mengenang pekerjaan rutinnya yang berat pada masa lalu.

Meski sukses dalam bisnis, Susi mengaku gagal dalam hal asmara. Wanita pengagum tokoh Semar dalam dunia pewayangan itu menyatakan sudah tiga kali menikah. Tapi, biduk yang dia arungi bersama tiga suaminya tak sebiru dan seindah Pantai Pangandaran. Semua karam.
Dari suaminya yang terakhirlah, Christian von Strombeck, si Wonder Woman ini mendapat inspirasi untuk mengembangkan bisnis penerbangan. “Dia seorang aviation engineer,” lanjutnya.
Christian merupakan seorang ekspatriat yang pernah bekerja di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara yang sekarang bernama PT DI, Red). Awal perkenalannya dengan lelaki asal Prancis itu terjadi saat Christian sering bertandang ke Restoran Hilmans milik Susi di Pantai Pangandaran. Berawal dari perkenalan singkat, Christian akhirnya melamar Susi. “Restoran saya memang ramai. Sehari bisa 70-100 tamu,” katanya.
Dengan Christian, Susi mulai berangan-angan memiliki sebuah pesawat dengan tujuan utama mengangkut hasil perikanan ke Jakarta. Satu-satunya jalan, lanjut Susi, adalah dengan membangun landasan di desa-desa nelayan. “Jadi, tangkap ikan hari ini, sorenya sudah bisa dibawa ke Jakarta. Kan cuma sejam,” tegas ibu tiga anak dan satu cucu tersebut.



Berbeda jika harus memakai jalur darat yang bisa memakan waktu hingga sembilan jam. Sesampai di Jakarta, banyak ikan yang mati. Padahal, jika mati, harga jualnya bisa anjlok separuh.
“Kami mulai masukin business plan ke perbankan pada 2000, tapi nggak laku. Diketawain sama orang bank dan dianggap gila. ‘Mau beli pesawat USD 2 juta, bagaimana ikan sama udang bisa bayar,’ katanya,” ujar Susi.
Barulah pada 2004, Bank Mandiri percaya dan memberi pinjaman sebesar USD 4,7 juta (sekitar Rp 47 miliar) untuk membangun landasan, serta membeli dua pesawat Cessna Grand Caravan. Namun, baru sebulan dipakai, terjadi bencana tsunami di Aceh. “Tanggal 27 kami berangkatkan satu pesawat untuk bantu. Itu jadi pesawat pertama yang mendarat di Meulaboh. Tanggal 28 kami masuk satu lagi. Kami bawa beras, mi instan, air dan tenda-tenda,” ungkapnya.
Awalnya, Susi berniat membantu distribusi bahan pokok secara gratis selama dua minggu saja. Tapi, ketika hendak balik, banyak lembaga non-pemerintah yang memintanya tetap berpartisipasi dalam recovery di Aceh. “Mereka mau bayar sewa pesawat kami. Satu setengah tahun kami kerja di sana. Dari situ, Susi Air bisa beli satu pesawat lagi,” jelasnya.
Perkembangan bisnis sewa pesawat miliknya pun terus melangit. Utang dari Bank Mandiri sekitar Rp 47 miliar sekarang tinggal 20 persennya. “Setahun lagi selesai. Tinggal tiga kali cicilan lagi. Dari BRI, sebagian baru mulai cicil. Kalau ditotal, semua (pinjaman dari perbankan) lebih dari Rp 2 triliun. Return of investment (balik modal) kalau di penerbangan bisa 10-15 tahun karena mahal,” katanya.
Susi tak hanya mengepakkan sayap di bisnis pesawat dan menebar jaring di laut. Sekarang, dia pun merambah bisnis perkebunan. Meski begitu, dia mengakui ada banyak rintangan yang harus dilalui. “Perikanan kita sempat hampir rugi karena tsunami di Pagandaran pada 2005. Kami sempat dua tahun nggak ada kerja perikanan,” tuturnya.
Untuk penerbangan rute Jawa seperti Jakarta-Pangandaran, Bandung-Pangandaran dan Jakarta-Cilacap, Susi menyatakan masih merugi. Sebab, terkadang hanya ada 3-4 penumpang. Dengan harga tiket rata-rata Rp 500 ribu, pendapatan itu tidak cukup untuk membeli bahan bakar. “Sebulan rute Jawa bisa rugi Rp 300 juta sampai Rp 400 juta. Tapi, kan tertutupi dari yang luar Jawa. Lagian, itu juga berguna untuk mengangkut perikanan kami,” ujarnya.

Susi memang harus mengutamakan para pembeli ikannya, karena mereka sangat sensitif terhadap kesegaran ikan. Sekali angkut dalam satu pesawat, dia bisa memasukkan 1,1 ton ikan atau lobster segar. Pembelinya dari Hongkong dan Jepang setiap hari menunggu di Jakarta. “Bisnis ikan serta lobster tetap jalan dan bisnis penerbangan akan terus kami kembangkan. Tahun depan kami harap sudah bisa memiliki 60 pesawat,” katanya penuh optimisme.
Semoga Kisah Ibu Susi ini bisa memacu semangat Generasi Muda Negeri ini untuk berani berusaha dan mau bekerja keras! Tidak hanya berharap bisa bekerja sebagai pegawai saja, tetapi justru bisa menciptakan lapangan kerja baru di tengah sempitnya lapangan kerja saat ini.
Sumber: EntreMagz